Rafli : Pemerintah Harus Siapkan Grand Design Batam Pasca Pembubaran BP Batam -->

Rafli : Pemerintah Harus Siapkan Grand Design Batam Pasca Pembubaran BP Batam

Sunday, 9 August 2020

Jakarta - Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017 pertumbuhan Produk Domestik  Regional  Bruto   (PDRB) kota Batam hanya mencapai 2,19%. Padahal di tahun 2013 pertumbuhan ekonomi Batam bisa mencapai 7% lebih, hal tersebut tidak terlepas dari pertumbuhan sektor industri pengolahan di kota Batam yang melemah. Pada tahun 2017 pertumbuhan industri pengolahan di kota tersebut hanya  mencapai  1,76%,  padahal  di tahun 2016 industri tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 4,64%, bahkan di tahun 2013 bisa mencapai 7,07%. Hal tersebut yang menyebabkan Presiden Jokowi  pada 12 Desember 2018 memutuskan untuk membubarkan BP Batam.

Anggota Komisi VI Fraksi PKS DPR RI dari Daerah Pemilihan Nangroe Aceh Darusalam I Rafli mengatakan, “Batam yang sebelumnya diharapkan menjadi kawasan center of production saat ini malah menjadi kawasan center of consumption.” Niat menjadikan Batam sebagai pesaing Singapura sepertinya semakin jauh panggang dari api, bahkan pada Kuartal I tahun 2019 berdasarkan data yang dilansir oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam Rudi Sakyakirti terdapat 27 Perusahaan ditutup yang menyebabkan sekitar 900 orang kehilangan pekerjaan.

Rafli menjelaskan, “Oleh karena itu, kami mendorong Pemerintah agar bisa menyiapkan grand design Batam pasca BP Batam dibubarkan oleh Presiden Jokowi pada 12 Desember 2018 lalu. Batam harus didorong lebih produktif sebagai Area Industri Berorentasi Ekspor (AIBEks) dan subsitusi impor melalui kegiatan industri manufaktur, sehingga tercipta peningkatan lapangan kerja yang dapat mengurangi pengangguran dan peningkatan investasi terutama PMA”. “Perlu adanya penataan kembali pengelola kelembagaan organisasi yang mengelola kawasan khusus Batam agar menjadi organisasi good corporate government (GCG) sebagai organisasi bisnis yang menerapkan international standard best practice sebagai korporasi, baik dalam kinerja (performance), tata kelola (governance) maupun kelembagaan (organization).” tutup Rafli