Merawat Batas Indonesia di Tanah Papua -->

Merawat Batas Indonesia di Tanah Papua

Wednesday, 4 September 2019

Boven Digole - Mendengar konflik Papua mungkin membuat orang - orang takut datang kesana, namun tidak berlaku bagi Maryogi, seorang perawat asal Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung yang nekat mengabdi di pedalaman Papua, untuk merawat warga perbatasan di Indonesia bagian timur.

"Awalnya saya ikut program Nusantara Sehat dari Kemenkes RI, di tugaskan di Pulau Natuna, Kepulauan Riau, tepatnya di Pulau Midai bersama 6 anggota tim dari profesi kesehatan berbeda selama dua tahun, sejak 2016"


"Terus pada 2019, saya lanjut Program Nusantara Sehat Indvidu di  Provinsi Papua. ditempatkan di Boven Digole, tepatnya Bomakia" Jelas Maryogi 

Pemuda 25 tahun yang sejak sekolah aktif dalam banyak kegiatan sosial, Pramuka, Palang Merah, serta organisasi lainnya, menceritakan kondisi kesehatan masyarakat dimana ia mengabdi yang membutuhkan perhatian serta edukasi terutama kesehatan.

"Disini warga sangat baik menerima saya, namun masih banyak masalah kesehatan. Mulai dari sumber air bersih. Masyarakat masih minum air hujan, terkadang air hujannya tidak di masak, hingga mengakibatkan banyak kasus diare dan disentri. Masalah ibu hamil, juga menjadi perhatian disini, Warga masih banyak melahirkan sendiri di hutan. Masih tinggi angka kematian ibu dan angka kematian balita. Kasus Gizi buruk Masih banyak menghantui akibat kurangnya asupan makanan seimbang. Warga hanya makan sagu bakar, sedangkan sumber proteinnya kurang, bahkan tidak ada" Ungkapnya
Terus persoalan kebiasaan yang bahkan menjadi budaya. "Banyak para pemuda khususnya pria, Mereka banyak menggunakan daun bungkus untuk memperbesar penis, sehingga teridikasi banyak kasus infeksi menular seksual (IMS)" Tuturnya

Persoalan kesehatan gigi karena kebiasaan makan sirih pinang terus menerus, bisa dikatakan jauh dari kata sehat.

"Banyak kasus PPOK, TBC dan Penomonia, oleh sebab masyarakat masih menggunakan dapur kayu bakar di dalam rumah yang tidak ada fentilasi udara, sehingga asap menggumpal menyebabkan banyak yang penderita Infeksi Saluran Pernapasan Atas ( ISPA )"


"Jika warga sakit pun di dalam rumah mereka buat api, atau tungku disamping pasien. Sehingga asap yang berasal dari pembakaran tersebut memperparah kondisi pasien"
"Dalam hal ini menjadi tugas kita bersama mengedukasi dan berperan aktif membantu kesehatan warga papua yang sangat ramah dan penuh cinta menerima pengabdian saya" Ujar Maryogi