Disabilitas, Hipnotis Pengunjung Malam Aceh Berpuisi -->

Disabilitas, Hipnotis Pengunjung Malam Aceh Berpuisi

Friday, 7 December 2018

Banda Aceh - Agenda lanjutan peringatan Hari Puisi Aceh 10 November 2018, dikemas dalam tajuk kegiatan Malam Aceh Berpuisi berlangsung malam tadi, Jumat (07/12) di kawasan Batoh, Kota Banda Aceh.

Ajang bertemunya sejumlah sastrawan  Aceh dan penikmat karya sastra itu dinakhodai oleh Zulfikar Cs, terlaksana mulai jam 20.00 - 22.00 WIB menampilkan karya puisi milik beragam kalangan.

Tampak peserta spesial perwakilan disabilitas Aceh yang berhasil menghipnotis penonton dengan puisi berjudul "Terbuang Di Negeri Sendiri" dibacakan oleh empat penyandang disabilitas yakni, Risky, Ajir, Elin, Rijal dengan penggalan merintih menagih inklusi dinegeri serambi mekah.

Terlihat isak tangis sejumlah pengunjung setelah puisi bernada berikut diekspresikan;

TERBUANG DI NEGERI SENDIRI
Karya : Rijal Qiwienk

(Ajier)
Tersiar Kabar Suara Media
Aceh, Kini Telah Inklusi Dalam Setara
Semua Tersenyum Penuh Bahagia
Mengurai Lara Sejuta Tawa
Sehingga Lupa Nikmat Itu Tak Pernah Ada
Untuk Mereka Yang Ingin Berkarya
Disabilitas Tetap Di Ujung Stigma

(Riski)
Sehat Jasmani Dan Rohani Bukti Nyata
Hak Berkerja, Kita Tak Bisa
Yang Ada Cuma Jadi Pengacara
Pengangguran berbuah deraian air mata
Inilah yang Di sebut Inklusi di negeri  kita
Wahai... seurambi meukah yang kucinta
Kami tetap kumpulan yang terlupa

(Elin)
Sekolah kami juga tak sama
Harus ada kata khusus, istimewa dan Luar Biasa
Pedih...
Perih...
Nasib kami sebagai anak Bangsa
Yang tersimpan dalam kasihan belaka
Dengan pedidikan seadanya saja

(sama-sama)
Tanoh Reuncong tanoh pusaka
Pada siapa kami harus bercerita
Kala kami menggapai asa untuk setara
Apakah pada Sang Raja atau Panglima...

(Rijal)
Kami tak butuh ikan wahai... seulawah dara
Kami butuh pancing yang kuat untuk menantang muara
Untuk melukis harapan sejuta mahakarya
Bukankah kami jua adalah anda?

(Ajir)
UU hak setara jangan hanya menjadi arsip negara 
Yang hanya menumpuk bak sampah belaka
Implementasi yang kami damba
Bukan cuma iklan yang kadarluarsa...

(Riski)
Kota madani berganti gemilang nama
Tapi, kami tetap masih harus bersuara
Memperjuangkan puluhan juta anak bangsa yang dianggap beban negara...

(Sama-sama)
Kami adalah mutiara bangsa
Permata khatulistiwa
Tanah air kita sama
Tanoh tanpa berhala negeri kita tercinta...

Amatan media ini diantara seniman senior, terlihat hadir, Chairiyan Ramli (musikus), Rein Asmara (pelukis), Iwan Setiawan (Gayo), Presiden Rex (Hasbi Burman), Zulfikar, Muhrain, Elly Idrus (Meulaboh).  Selain itu, hadir pula perwakilan dari mahasiswa Abul Yatama (Phona dan Widika Agnesia) juga perwakilan dari  Fakultas Adab UIN Ar-Raniry, hadir juga perwakilan dari Poltekes Aceh (Helga Sania Putri), dan spesial dari perkumpulan penyandang disabilitas berbakat bidang sastra. 

Ajang berpuisi di Aceh ini merupakan bagian dari agenda peringatan Hari Puisi Indonesia tanggal 10 November 2018 lalu, hal ini sudah menjadi kewajiban, menyemarakkan baca puisi di bumi nusantara khususnya Aceh adalah gerak sastra khususnya puisi untuk negeri, kegiatan Aceh Berpuisi serupa ini akan kita laksanakan pada akhir pekan pertama setiap bulannya” ujar Zulfikar selaku panitia. (R9)