Penipuan Berkedok Iming-Iming PNS Kembali Terjadi -->

Penipuan Berkedok Iming-Iming PNS Kembali Terjadi

Friday, 7 September 2018

TULUNGAGUNG - Seorang pegawai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tulungagung bernama Romhadi (50) dilaporkan karena diduga melakukan penipuan, dengan modus bisa memasukkan pegawai Pemkab Tulungagung.

Pelapornya adalah temannya sendiri, Abdul Hadi (47) warga Dusun Bendil, Kelurahan Panggungrejo, Kecamatan Tulungagung.

Romhadi diduga sebagai bagian dari jaringan Jaka Jamakas, mantan PNS di bagian protokoler Pemkab Tulungagung yang sudah ditangkap polisi karena kasus yang sama.Hal ini diungkapkan Dipta Putra Aditya (19), anak dari Hadi yang telah direkrut Romhaji.Menurut Dipta, setelah ayahnya membayar uang Rp 30 juta untuk syarat bekerja di Pemkab Tulungagung, dirinya langsung dimasukkan ke dalam grup WhatsApp.

Grup itu beranggotakan sekitar 16 orang, dengan admin Jaka Jamakas.

“Ternyata semua nasibnya sama, bekerja tanpa menerima gaji,” ungkap Dipta.

Dipta mulai bekerja di Pemkab Tulungagung sejak Juli 2017.

Anggota grup ini dibagi dalam beberapa kelompok yang anggotanya empat sampai lima orang.

Setiap hari grup itu membagikan agenda bupati, serta lokasi-lokasi yang akan dikunjungi.

Anggota grup ditugaskan mengawal kegiatan bupati dari awal hingga selesai.

Tugasnya hanya memotret kegiatan bupati, kemudian dibagikan lewat grup.

Dalam satu minggu biasanya ada dua hingga tiga kegiatan bupati yang harus dikawal.

“Semua yang membagi dan yang mengatur jadwal ya mas Jaka itu,” tambah Dipta.

Dipta tidak merasa curiga, karena dirinya juga diberi seragam persis seperti yang dikenakan Jaka.

Yang aneh, tim yang dibentuk Jaka ini tidak berangkat bersama rombongan bupati.

Dipta dan kawan-kawan harus menggunakan motor pribadi dan menggunakan uang pribadi untuk membeli bensin.

Mereka harus siap jika setiap saat diperintah untuk menuju lokasi acara bupati.

Bahkan ada yang bertugas dari pagi hingga ketemu pagi keesokan harinya.

Namun pada Desember 2017, grup ini dihapus oleh Jaka sehingga Dipta dan kawan-kawan kebingungan.

“Status kami jadi tidak jelas, karena tiba-tiba grupnya dihapus,” ujar Dipta.

Selama bekerja, Dipta dan kawan-kawan juga tidak pernah digaji.

Merasa curiga telah menjadi korban penipuan, Hadi menanyakan kejelasan nasib anaknya ke Romhaji.

Namun Romhaji tidak pernah bisa memberi kepastian. Akhirnya Hadi memlilih melaporkan Romhaji ke polisi.

Jaka, ASN di bagian protokoler Pemkab Tulungagung telah ditangkap tim Satreskrim Polres Tulungagung, Sabtu (1/9/2018) di Palembang, Sumatera Selatan.

Penangkapan dilakukan berdasar laporan dari Ashiton Pandiangan (55), warga Trenggalek yang menjadi korban penipuan Jaka.

Modusnya, Jaka mengaku bisa memasukkan anak korban bekerja di Rumah Sakit Bhayangkara.

Namun setelah korban menyerahkan uang Rp 60 juta, janji itu tidak pernah terpenuhi.

Jaka sempat dua bulan menjadi buron, karena tiga kali tidak datang saat dipanggil penyidik.