Ahok Mulai Diperiksa Sebagai Tersangka -->

Ahok Mulai Diperiksa Sebagai Tersangka

Tuesday, 22 November 2016

www.bidikkabar.com/2016/11/ahok-mulai-diperiksa-sebagai-tersangka.html?m=1

Jakarta - Bareskrim Mabes Polri telah melakukan gelar perkara secara terbuka kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok pada Senin, 15 November 2016. Sehari kemudian, hasil gelar perkara diumumkan. Polisi menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama.
Ahok disangkakan Pasal 156a KUHP tentang penodaan agama dengan ancaman pidana lima tahun penjara. Pasal 28 ayat 2 UU ITE tentang penyebaran informasi yang menimbulkan kebencian di masyarakat, juga disangkakan ke Ahok. Lalu, Ahok dicegah bepergian ke luar negeri.

Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dijadwalkan bakal diperiksa penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri. Ia akan diperiksa sebagai tersangka atas kasus dugaan penistaan agama pada Selasa (22/11/2016) pagi ini.
"Sesuai dengan jadwal, besok Pak Basuki Tjahaja Purnama akan diperiksa pertama kali sebagai tersangka," ucap Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal (Irjen) Pol Boy Rafli Amar di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Senin, 21 November 2016.

Boy mengungkapkan, pemeriksaan terhadap Ahok akan dilakukan di Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan. Sesuai jadwal, pemeriksaan akan dimulai sekitar pukul 09.00 WIB.

"Kan Pak Kabareskrim ada kantornya juga di sini," ucap Boy.
Bareskrim Polri telah melakukan gelar perkara dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. Hasilnya, Bareskrim menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus penistaan agama.

"Meskipun tidak bulat, perkara ini harus diselesaikan di peradilan yang terbuka. Konsekuensinya akan ditingkatkan ke proses penyidikan dengan menetapkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai tersangka," kata Kabareskrim Polri Komisaris Jenderal (Komjen) Pol Ari Dono Sukmanto di Mabes Polri, Jakarta, Rabu, 16 November 2016.
Sementara, berkas perkara dugaan penistaan agama dengan tersangka Basuki Tjahaja Purnama akan segera rampung.
Hal ini diungkapkan Tito saat menyampaikan keterangan pers di Kompleks Mabes Polri, Jakarta.

"Saya ingin menekankan bahwa proses hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, sudah menuju tahap akhir," kata Tito, Senin, 21 November 2016.

Dia menargetkan kepada para penyidiknya untuk melengkapi berkas tidak lebih dari dua pekan. Dengan demikian, berkas perkara bisa langsung diserahkan ke Kejaksaan Agung untuk diteliti lebih lanjut.

"Paling tidak dua minggu lagi akan diserahkan ke kejaksaan," Tito menambahkan
Terkait barang bukti, kepolisian sudah berhasil menemukan barang bukti utama berupa rekaman video. Rekaman yang didapat juga bukan diambil dari YouTube atau sosial media lainnya.

"Saya perintahkan, ambil segera video asli sebelum barang itu hilang. Akhirnya penyidik datang ke pemda, dapat lalu dibawa ke forensik. Saya tanya asli? Asli pak," Tito menambahkan.

Faktor mengulangi perbuatan juga dinilai belum cukup memenuhi unsur. Polisi menilai Ahok belum ada upaya mengulangi perbuatannya. "Sementara kita tidak lakukan penahanan," Kapolri Tito.
Selanjutnya, Tito menjelaskan, aturan di kepolisian menyebutkan ada dua faktor yang bisa menyebabkan seseorang ditahan, yaitu faktor objektif dan subjektif.
Dari objektivitas, seluruh saksi ahli yang diperiksa tidak bulat dalam memberikan keterangan kepada kepolisian. Di sisi lain, penyidik pun tidak bulat dalam memutuskan kasus Ahok ini.

"Itu objek utama. Dalam kasus ini, saksi ahli terjadi perbedaan pendapat. Kedua penyelidikan penyidikan belum bulat," kata Tito di Kwitang, Jakarta Pusat, Minggu, 20 November 2016.

Dari sisi subjektivitas, Polri bisa melihat dari tiga faktor. Alasan melarikan diri, menghilangkan barang bukti, dan mengulangi perbuatan.

"Kita lihat cukup kooperatif, dia belum dipanggil sudah datang, dipanggil resmi datang. Kedua dia ikut pilkada, melarikan diri habis rugi sendiri. Tapi penyidik tidak mau ambil risiko, makanya saya tambah cegah ke luar negeri," Tito menjelaskan. (Chan/R6)